SEMINAR BROWN BAG 2 : Determinan Partisipasi Kredit di Sektor Perikanan

Seminar Browne Bag 2  yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian  Ekonomi-LIPI  disajikan oleh  Nika Pranata  (Peneliti Muda)   dipandu oleh Muchammad Sukarni,  berjudul “Determinan Partisipasi Kredit di Sektor Perikanan:  Studi Kasus Kabupaten Malang dan Kabupaten Cirebon”.   Indonesia merupakan negara kepulauan  memiliki garis pantai kedua terpanjang di dunia (World Resource Institute).   Dengan kondisi geografi yang sangat mendukung sektor kelautan dan perikanan dan potensi – potensinya, sektor ini seharusnya salah satu penopang utama perekonomian Indonesia. Namun  kontribusi sektor perikanan terhadap perekonomian nasional sangat rendah, jumlah penyaluran kredit untuk sektor perikanan pun sangat kecil, Statistik Perbankan Indonesia (BI dan OJK) menunjukan bahwa sepanjang bulan Januari 2011 – Agustus 2016 secara rata – rata  kredit yang disalurkan hanya 0,3 % dari seluruh kredit yang disalurkan, dan  BPR yang pangsa pasarnya adalah UMKM porsi kredit yang didistribusikan ke sektor perikanan tidak besar.

Menurut beberapa peneliti  (Gurley & Shaw, 1962; King & Levine, 1993; Mishkin, 2007) menyatakan  bahwa  layanan lembaga keuangan  dapat menumbuhkan ekonomi melalui efisiensi pengalokasian dana, dan akumulasi kapital dapat membantu ekspansi usaha dan industri.   Banyak faktor yang mempengaruhi  kredit dari berbagai karakteristik yaitu: faktor usia, pendidikan, nilai asset, katakanlah usia lebih muda,  berpendidikan ada asset  punya peluang untuk mendapatkan kredit.

Menurut Nika penelitian ini dilakukan di dua lokasi yaitu Kabupaten Malang, dan Kabupaten Cirebon, dengan jumlah 184 responden , terdiri dari 134 partisipan kredit/pembiayaan dan 50 responden yang belum pernah mendapatkan kredit dari bank.   Perairan di Kabupaten Malang merupakan  bagian dari garis Pantai Selatan Jawa.  Berkenaan dengan sektor perikanan, PDRB sektor perikanan pada 2015 sebesar 1,4 triliun rupiah atau 1.9%.  Komoditas utama  dan unggulan adalah ikan tuna.  Berikutnya, Kabupaten Cirebon  perikanan tangkap dan budidaya.   Pendidikan formal dikedua lokasi relative rendah  rata-rata tamatan SD tapi banyak juga yang tidak tamat sekolah SD.

Adapun  tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan faktor yang berpengaruh dalam partisipasi kredit dengan menggunakan analisis regresi logit karena metode ini mempunyai kelebihan dalam hal fleksibelitas dan interpretasi yang lebih mudah dipahami dan lebih bermakna.  Menurut Nika bahwa yang terlihat berpengaruh signifikan terhadap pelaku usaha untuk mendapatkan kredit dalam sektor perikanan adalah RPP (Rasio Pendapatan : Pengeluaran)  artinya semakin tinggi nilai RPP maka semakin besar uang yang bisa disisihkan untuk membayar cicilan,  variabel signifikan berikutnya yaitu jumlah tanggungan keluarga sangat berpengaruh.

Hasil pengamatan dari  peneliti dilapangan bahwa petani tambak/budidaya relatif memiliki agunan yaitu lahan yang digunakan untuk budidaya dan risiko usaha yang lebih kecil dibandingkan  nelayan  tangkap, sedangkan ABK  nelayan pemilik kapal memiliki kapasitas yang rendah dalam hal agunan dan pendapatan yang lebih kecil serta risiko gagal melaut yang lebih besar.  Nelayan pemilik kapal  punya prinsip jika mempunyai hasil dan simpanan yang lebih, mengutamakan  menambah kapal dibandingkan untuk menambah aset dalam bentuk tanah, rumah, atau kendaraan dll.   Untuk surat2 kepemilikan kapalpun  rata-rata  tidak punya maka Bank harus lebih  hati-hati meminjamkan  uang karena agunan tidak bisa jadi jaminan. 

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bahwa yang berpengaruh terhadap partisipasi pembiayaan adalah  rasio pendapatan terhadap pengeluaran, lama berusaha, jenis pekerjaan, dan jumlah tanggungan keluarga.  Untuk sector perikanan tangkap terutama ABK  memiliki probabilitas paling kecil dalam mendapatkan pembiayaan, dikarenakan oleh berbagai faktor salah satunya terbatasnya aset yang dapat digunakan sebagai agunan pinjaman, rendahnya kapasitas kemampuan membayar pinjaman, dan rendahnya literasi keuangan. Mengingat akselerasi pertumbuhan sebaiknya pemerintah dapat lebih mengoptimalkan peran BPR  dngan pertimbangan  bahwa BPR mempunyai kelebihan yaitu kedekatan secara fisik maupun kedekatan secara sosial  dan lebih memahami karakter penduduk lokal,  lebih fleksibel dalam  hal penyaluran kredit baik dari sisi persyaratan yang lebih mudah dan waktu pencairan dana yang lebih cepat.    Kendalanya  BPR bunganya sangat tinggi  nelayan mengharapkan bunga rendah supaya dapat kredit yang tidak terlalu memberatkan dan dapat terjangkau pembayarannya oleh masyarakat.

 

Bahasa Indonesia